Menanggulangi Banjir Ala Basuki Tjahaja Purnama Alias Ahok

By on February 21, 2017
Ahok_1

Bencana banjir terus-menerus menghias wajah pemberitaan tanah air. Dari mulai Bandung, Tangerang, Garut, hingga beberapa kota di luar Pulau Jawa, banyak yang terkena musibah banjir. Padahal, kota banjir dulunya selalu disandang Jakarta. 

Ternyata, salah satu yang membuat banjir di Jakarta semakin berkurang karena program yang dilakukan Ahok dianggap tepat sasaran. Dibantu oleh beberapa dinas terkait, khususnya Dinas PU Tata Air DKI Jakarta dan Dinas Kebersihan DKI Jakarta, masalah pelik yang sempat membuat Jakarta “lumpuh” saat musim hujan tiba ini kini sedikit-sedikit teratasi.

Lantas, apa saja yang Ahok lakukan untuk menanggulangi banjir di Jakarta?

1. Normalisasi Sungai

Sungai menjadi media yang sangat efektif untuk mencegah banjir. Sungai yang tersumbat dan terhambat alirannya dapat membuat air luber dan mendatangkan bencana banjir. Normalisasi ini kian terlihat dan dirasa langsung oleh kita semua. Sampah-sampah yang menumpuk di sungai kini semakin berkurang. Sungai pun jadi lebih bersih dan tidak mendatangkan bau.

Tak hanya itu, normalisasi sungai juga dilakukan dengan cara memindahkan pemukiman yang awalnya berada di daerah bantaran kali ke rusun-rusun yang telah disediakan pemerintah DKI Jakarta. Dengan adanya pemindahan ini, diharapkan masyarakat hidupnya jadi lebih bersih, sehat, dan nyaman. Setidaknya, tercatat 30.679m aliran sungai sudah di normalisasi.

2. Pembangunan Sheetpile

Sheetpile adalah dinding penahan di sepanjang pinggiran aliran sungai yang berfungsi untuk meminimalisir rembesan air sungai ke tanah di sekitarnya, menahan erosi tanah di sepanjang aliran sungai yang biasanya terbawa hanyut aliran air kala deras dan berpotensi membuat sungai jadi dangkal, serta menahan tanggul aliran air jebol.

Pembangunan sheetpile ini tercatat sudah dipasang sepanjang 35.448m, yang meliputi sungai di sepanjang Jalan Kalimalang, sungai di sepanjang Jalan Daan Mogot, sungai di Sepanjang Tanah Abang-Roxy-Jembatan Tiga, Sungai di sepanjang Jalan Menuju Pluit, dan masih banyak lagi.

3. Menambah Pasukan Oranye

Tugas pasukan oranye ini bukan saja membersihkan lingkungan dari tumpukan sampah. Lebih dari itu, mereka mengerjakan segala satu yang menyangkut prasaran dan sarana yang berada di bawah tanggung jawab lurah setempat. Tugas utama mereka adalah menangani persoalan darurat dan kecil. Misalnya, membersihkan sampah yang menyumbat saluran air, memunguti sampah yang dibuang sembarangan, menambal lubang kecil di trotoar dengan semen, dan masalah kerusakan pada sarana dan prasarana umum di Jakarta.
Setiap rukun tetangga memiliki 1 tim pasukan orang. Setiap tim terdiri dari 6 orang petugas. Mereka setiap hari berkeliling perumahan penduduk dari gang RT sampai ke pelosok sudut RT. Jumlahnya pun terbilang luar biasa, mencapai 20.000 orang. Kehadiran mereka membuat Jakarta tak hanya bebas banjir tetapi terlihat bersih dan menarik.
4. Membentuk Pasukan Biru

Setelah pasukan oranye, Ahok dan Dinas PU Tata Air DKI Jakarta membentuk Pasukan Biru. Tugas Pasukan Biru ini mulai dari menyiapkan berbagai peralatan penanggulangan banjir hingga membersihkan semua aliran sungai meliputi aliran timur, tengah, dan barat, termasuk drainase yang pampat.

Pasukan Biru ini bertugas secara bergiliran mengatasi masalah yang terjadi di wilayah yang rawan banjir. Semakin rentan kawasan tersebut terkena banjir, maka semakin banyak jumlah personilnya. Bahkan, mereka ditugaskan bekerja selama 24 jam dengan sistem shift atau giliran. Artinya, mau ada banjir jam berapapun, akan segera bisa langsung ditangani.

Semoga, berbagai program ini dapat diaplikasi pemerintah daerah lain di luar Jakarta, dan bencana banjir pun semakin bisa terminimalisir lagi.

Teks Irfan Hidayat Foto Amar Ramdhani

Editor Irfan Hidayat

About Rumah Guide