Hampir Semua Kota di Indonesia Terkena Musibah Banjir. Salah Dimana?

By on February 22, 2017
Banjir 1_1

Dulu, banjir identik dengan kota Jakarta. Kini, hampir semua kota di Indonesia mengalami Banjir. Kenapa bisa terjadi seperti ini?

Banjir menjadi pemberitaan utama di seluruh media baik cetak, online, maupun televisi, akhir-akhir ini. Bahkan menjadi viral di media sosial seperti Twitter, Path, dan Instagram. Hebohnya pemberitaan terkait banjir dikarenakan musibah ini hampir terjadi di seluruh penjuru negeri.

Tak hanya di daerah perkotaan, banjir juga sudah masuk ke kawasan pedesaan. Selain itu, banjir mulai masuk ke kawasan yang dulunya dianggap daerah aman banjir. Ketidaksiapan inilah yang membuat seluruh orang kaget dan akhirnya menjadi heboh.

Bintang Noor Prabowo, dosen arsitek mata kuliah Perancangan Arsitektur dan Tata Ruang Luar, Universitas Diponegoro Semarang, mengungkapkan bahwa banjir yang terjadi di banyak kota di Indonesia ini salah satunya disebabkan oleh perencanaan kota yang tidak terencana, seperti pembangunan gedung tak terkendali, hilangnya lahan hijau, dan alihfungsi lahan yang tak tepat.

“Selain itu, kesalahan perencanaan dan pengendalian kota yang sering terjadi adalah yang berkaitan dengan kegagalan memprediksi kebutuhan drainase perkotaan dalam jangka panjang, dan kegagalan pengendalian pemanfaatan bantaran sungai secara ilegal,” ucap Bintang.

Tetapi, Bintang menekankan bahwa fenomena banjir perkotaan itu juga sangat dipengaruhi oleh banyak faktor. Misalnya, kegagalan pengendalian pemanfaatan daerah resapan air di hulu sungai, egosektoral dan kurangnya koordinasi lintas wilayah administratif, masalah persampahan kota khususnya yang berkaitan dengan terbuangnya sampah ke sungai, penurunan muka tanah dan banjir rob, serta faktor anomali cuaca.

“Idealnya pemerintah melakukan perencanaan kota secara menyeluruh, dengan memperhitungkan daya dukung kawasan, potensi dan ancaman, serta pengendalian kawasan yang disiplin dan ketat,” ucap lulusan Urban Design di Magister Teknik Arsitektur Universitas Diponegoro, Semarang.

Banjir 2_1

Tetapi, ia juga menyadari, untuk mencapai ideal ini hanya bisa dilakukan di pembuatan kota-kota baru, dan hampir tidak mungkin diterapkan di kota-kota yang sudah tumbuh selama puluhan, bahkan ratusan tahun lamanya. Walaupun begitu, bukan berarti pemerintah dan kita semua hanya tinggal diam melihat banjir yang terjadi.

“Yang bisa dilakukan pemerintah adalah melakukan perencanaan (dan pengendalian) sarana dan prasarana kota, khususnya yang berkaitan dengan drainase, sanitasi, dan pengendalian banjir dalam jangka pendek, menengah, dan panjang, serta melakukan monitoring dan evaluasi terus menerus,” ucap Bintang.

Dukungan warga kota juga menjadi salah satu faktor kunci dalam mensukseskan program bebas banjir oleh masing-masing pemerintahan kota. “Masyarakat dapat membantu pemerintah kota dengan cara berpartisipasi aktif dalam banyak hal,” ucapnya. Menurut bintang, ini yang bisa dilakukan masyarakat.

1. Disiplin dalam memilah dan membuang sampah.

2. Mematuhi peraturan pemerintah, khususnya yang berkaitan dengan pemanfaatan lahan. Tidak membangun secara ilegal di bantaran sungai, apalagi sampai menjorok ke badan sungai, dyang dapat mengurangi kemampuan sungai dalam menampung volume air. Tidak pula membangun di area resapan tangkapan air di daerah penyangga kawasan.

3. Mematuhi peraturan Koefisien Dasar Bangunan (Building Coverage) dan Koefisien Lantai Bangunan (Floor Area Ratio), sehingga memberikan kesempatan air hujan untuk dapat meresap di setiap lahan yang dimiliki masyarakat.

4. Mematuhi himbauan dan peraturan pemerintah untuk menyediakan sumur resapan, yang dapat menampung air hujan dari atap masing-masing rumah, untuk ditampung dan diresapkan terlebih dahulu ke dalam sumur resapan, sebelum akhirnya penuh, dan disalurkan ke saluran kota.

5. Tidak melakukan eksploitasi air tanah (artesis) tanpa ijin, karena akan menyebabkan penurunan muka tanah. Penurunan muka tanah, akan langsung berdampak pada “naiknya” permukaan air di sekitar kawasan yang turun tersebut.

6. Berkontribusi dalam membuat biopori di halaman dan lingkungan masing-masing, untuk memperbanyak diserapnya air permukaan ke dalam tanah, sekaligus menyuburkan tanah di sekitar biopori.

7. Melakukan inovasi-inovasi baru dalam pemanfaatan air hujan dan peresapan air limbah rumah tangga. Misalnya dengan menggunakan Metoda Rain Harvesting (memanen hujan), yaitu menampung dan memanfaatkan air hujan untuk keperluan domestik, misalnya menyiram tanaman, mencuci mobil dan motor, serta menyiram air kotor dari closet/toilet.

Semoga, dengan adanya perencanaan kota yang lebih terencana, serta sinergi yang baik antara pemerintah dan masyarakat, banjir di seluruh kota di Indonesia dapat diminimalisir.

 Teks Irfan Hidayat Foto Arief Budiman

Editor Irfan Hidayat

About Rumah Guide